Monday, 28 June 2021

Posted by nadila at 02:39 0 comments

 Apakah hidup selalu meletakan kita pada dilema?

Monday, 20 July 2020

Pulang karya Leila S Chudori

Posted by nadila at 02:44 0 comments
SPOILER ALERT!!

Tulisan ini ditujukan untuk menyampaikan rasa selama gue baca buku "Pulang". Tidak bermaksud untuk mereview, karena nampaknya belum pandai. Jadi,tulisan ini hanya untuk pengantar rasa saja.

Buku Pulang karya Leila S Chudori adalah karya beliau ke 3 yang gue baca. Sebelumnya adalah "Laut bercerita" dan "9 dari Nadira". Tidak pernah gagal. Tidak pernah tidak gagal membuat gue selalu terenyuh. Novel ini udah nangkring di lemari buku gue selama kuliah, cuman apa daya, gue gak bisa membagi waktu buat baca novel, karena baca text-book di masa kuliah jauh lebih genting daripada novel (maklum saya juga bukan anak sastra, jadi membaca buku novel hanya bisa disela waktu).

Sesaat buku ini gue bawa ke rumah, dan sudah ada di masa liburan. Bahagia sekali akhirnya bisa baca novel kembali.

Gue adalah tipikal orang yang tidak punya harapan apa apa dengan buku novel yang gue inginkan, gue gak mencari tau ini membahas apa, apalagi mencari-cari ulasan orang lain. Saat membaca karya buku Bu Leila, gaya bahasanya khas sekali. Hal yang membuat gue penasaran, adalah plotnya, gue mencari-cari, sebenarnya siapa 'pemeran utama' di kisah ini? Apa plot yang sebenarnya ingin disampaikan? Apa benang merahnya?

Novel "pulang" ini, sering kali berganti ganti point of view, saat sudah setengah membaca buku ini, dan seorang teman menanyakan tentang apakah buku ini? Gue pun bingung, judul "Pulang" ini dimaknai seperti apa? Benang merahnya tidak dapat saya temukan diawal cerita, karena kebanyakan buku ini berada pada point of view-nya Dimas Suryo. Hal ini juga yang bikin makin penasaran, plot apa yang ingin digiring?

Membaca buku karya Bu Leila pasti dilengkapi dengan kutipannya yang ngena di gue, salah satunya:
"Dimas, ingatkah kau pembicaraan kita tentang suatu 'gelembung kosong' di dalam kita, yang diisi hanya oleh kau dan Dia, untuk sebuah persatuan antara kita dan Dia yang tak bisa diganggu oleh apa pun barang seusapan.  Inilah saat yang tepat untukmu untuk melihat sepetak kecil dalam tubuhmu itu. Sendirian. Berbincang, jika kau ingin. Atau diam jika kau ingin. Dia mendengarkan. 
Selalu Mendengarkan."

Plot yang dibawakan semakin sejelas ketika point of viewnya dipindahkan ke Lintang Utara. Sehingga memaknai pulang jadi lebih mudah. Seluruh kisah yang dibawakan sang penulis memang pasti bergerak di latar 1998 atau sekitaran masa Orde Baru. Menceritakan tentang kebebasan yang dirampas, tahanan politik, segalanya yang "sensitif" kalau topik ini diserukan pada jaman orde baru. 

Rasa ketika membaca buku ini tuh seperti dibawa jalan jalan oleh sang penulis menyusuri sejarah. Tak jarang yang awalnya saya baca buku, malah berujung browsing mencari artikel yang lalu lalu. Karya Bu Leila selalu membuka mata gue untuk memaknai kata sejarah, sejarah dari kacamata penulis. Syukur-syukur bisa membuat gue jadi lebih concern sama topik ini. Selain itu buku bu Leila juga bikin gue nyari rekomendari lagunya heheee, kayak lagunya The Doors yang Light My Fire. 

Buku ini juga buku pertama Bu Leila yang bikin gue nangis ckckck, karena selama ini ceritanya terlalu nyesek sampe gue sendiri juga gak bisa nangis (apasih nad). Ya gak nangis sesegukan gitu sih, gue nangis juga karena seneng sama ritme yang dibawain. Ceritanya itu slow banget, kita diajak buat kenalan sama semuanya, tau kehidupannya dan latar belakang segala macamnya, diajak untuk pindah pindah point of view, diajak buat mencintai kata-katanya, intinya diajak untuk menyatu banget sama buku dan seisinya. Karena semakin lama juga bikin gue sadar, ada nilai serta masalah yang ternyata relate sama kehidupan manusia lain― walau kondisinya lain. 

“Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.”
― Leila S. Chudori, Pulang

Tuesday, 7 July 2020

Apakah pandemi membawa pesan baik?

Posted by nadila at 22:43 0 comments
Sudah 4 bulanan kayaknya gue stay di rumah aja akibat pandemi COVID-19. Bisa merasa aman di rumah, menurut gue adalah privilege. Sebenernya gue mau bungkam perihal pesan baik dari pandemi covid ini, cuman setelah kemarin habis rapat sama divisi di unit fotografi kampus. Ternyata kami sepakat.

"Pandemi bikin kita jadi lebih bernafas gak sih?"
lalu dilanjut dengan
"Gue sih gak habis pikir semester 4 bakal bisa gue laluin apa engga. Hectic banget"

Kebetulan semester 4 ini, udah masanya gue buat jadi pengurus harian di unit kampus. Terlebih gue jadi kepala divisi, yang kebagian beberapa proker yang menurut gue agak gak logis dari timelinenya.

Kemudian pandemi datang, gue balik ke rumah. Lalu belajar banyak hal.

Semenjak pandemi gue jadi semakin memberikan waktu untuk diri gue sendiri. Sekadar duduk buat mikirin tentang diri gue sendiri, 'apakah gue cukup bahagia dengan apa yang udah gue jalanin?', 'apakah gue terjebak di lingkungan toxic sehingga lo tidak sebebas itu untuk mengekspresikan diri dan belajar banyak hal?' dan banyak hal. Berat banget gak sih?

Pekan-pekan awal WFH emang kerasa berat sih, karena ternyata selama ini gue gak pernah menyempatkan waktu untuk bicara sama diri gue sendiri. Gue terlalu sibuk sama orang lain, bikin memories baru sama temen-temen (which actually this is not a bad thing), hingga gue lupa bahwa gue juga butuh "Ikigai" atau "the reason for being".

Gue semakin mempertanyakan hidup gue, apakah selama ini gue hidup untuk mencari validasi orang lain? sehingga sekadar komentar dari seorang teman bahwa gue gak cantik cantik amat di depan kamera bikin gue sedown itu (haha ini bodoh tapi nampol).

intinya: pandemi bikin mikir

via GIPHY


kalau di gue sih secara spesifik: pandemi bikin gue memberikan waktu untuk diri gue sendiri

Setelah pekan-pekan awal gue mikir, dan berusaha membawa positivitas baru ke hidup gue atau self-empowering in positive connotation. Akhirnya gue bisa memberikan waktu untuk diri gue sendiri dengan aktivitas yang selama ini gak bisa gue mulai atau dilakuin secara rutin.

Tidak bisa dipungkiri kalau gue sangat senang bisa mencoba rutin olahraga dengan beli yoga matt, bisa nyoba healthy life style dengan bikin cookies sehat dan nyoba bikin jamu, bisa nyoba masak pake oven atau nyoba menu menu baru kayak panna cotta (yummm) sampe bisa ikut course online yang bikin pusing tapi seneng karena bisa produktif.

iyap. produktif untuk diri gue sendiri. Sebab beberapa bulan yang lalu gue sempet mengalami fasa
"I wanna fall in love again, with my life". Bodohnya gue mencari cari jawaban tersebut dari orang lain. Ternyata, jawabannya ada dari diri gue sendiri.

Pandemi membawa pesan baik buat gue, buat lebih memahami diri gue sendiri, untuk sekadar bernafas sejenak, untuk mendinginkan kepala, untuk lebih mikir, dan untuk banyak hal baik yang tidak bisa gue sebutkan satu persatu. Semoga ada pesan baik lainnya ya!

Thursday, 8 August 2019

Selamat Datang Semester 3!

Posted by nadila at 08:29 0 comments
Halooo Agustus!
Tanggal 12 nanti gue udah harus kuliah lagi. Rasanya excited dan takut. Excited udah bisa ngambil matkul pilihan kesukaan, walau dengan susah payah rombak jadwal a-z, cuman biar dapet 2 matkul pilihanku:'). Alhasil, banyak kelas yang gak sekelas sama temen-temen 1 circle karena gue gagal krs-an kemarin. huhuhu maafin guys.
Gue juga takut bangett mulai semester 3 ini, takut nangis pas belajar dan gak mudeng mudeng wkwkwwk (ini tiap ngadepin matkul kimia organik sih AHAHA). Semester 3 ini emang agak ekstrem, soalnya ada 3 praktikum seminggu. Satu praktikum cuman dianggep 1 sks, tapi praktikumnya makan waktu 6 jam (hehe tolong?!). Yakan agak gila? mana gue nekat buat ngambil 23 sks, agak sayang aja kalau gue gak mentokin sksnya. Eh setelah jadwalnya muncul, bingung kan. Ini kok full banget yaaa, perasaan dulu penuh komitmen bakal ngambil sks banyak di semester awal:) HEHE. Sekarang juga harus semangat dong nad !!


note to self:
Udah nekatnya nad? Udah gak usah dipikirin, tinggal dijalanin aja. 
Lebih serius yaa!
Gak usah sedih kalau jalannya lebih lamban dari yang lain, 
kita pelan-pelan kejar materi. 

Ayo inget tujuan awal:) 

Selamat menjalani semester 3 Nadila.

Saturday, 3 August 2019

where have i been?

Posted by nadila at 08:19 0 comments
wow, lama juga ya menghilang dari dunia blogging.
pas balik buka blog ini, tau-tau guenya udah kuliah. HAHA
time flies.

sekarang Nadila udah kuliah!!!!!

di Yogyakarta.

hehe kaget gak?

gue juga kaget, gak pernah terlintas di benak gue buat kuliah di Jogja.
habisnya jauh, toh ada banyak kampus bagus di Jakarta dan Bandung.
kenapa harus ke Jogja?

Eh malah gue nyasar disini HAHAHA dan gue sudah jatuh cinta. iya,
jatuh cinta sama Jogja.

memutuskan untuk kuliah di Jogja juga ada prosesnya, apalagi masuk jurusan yang agak bikin orang-orang bertanya sama keputusan gue. sebab dengan pemikiran gue yang lumayan panjang, akhirnya keputusan gue bulat untuk milih jurusan Kimia UGM.
bagi banyak orang yang udah kenal dari SMA mungkin bertanya-tanya kali ya. kenapa kok gue milih jurusan yang eksak banget. lagi-lagi, gue udah mikirin ini dari lama, jadi gak amatiran hehe.

Sekarang jadi tahun kedua gue di Jogja. 1 tahun berlalu, banyak banget hal-hal yang terjadi selama disini. melewati berbagai homesicknya, dan i survived!!!

Monday, 29 July 2019

Posted by nadila at 04:23 0 comments


some people just need a lil bit of appreciation

Sunday, 21 February 2016

#6: selulit

Posted by nadila at 05:13 0 comments
nyokap lagi heboh hebohnya dengan cara menghilangkan selulit yang pake ampas kopi.

nyokap: pa, nanti kalau minum kopi ampasnya jangan dibuang. mau dipake buat ngilangin selulit
bokap : oh yaudah ambil aja
.
.
bokap : kenapa gak diminum aja, biar bisa gampang kebelakangnya.


ketika selulit pindah ke belakang.......
ayah oh ayah

 

Nadilaaa Template by Ipietoon | Icons by Teekatas Suwannakrua