Tulisan ini ditujukan untuk menyampaikan rasa selama gue baca buku "Pulang". Tidak bermaksud untuk mereview, karena nampaknya belum pandai. Jadi,tulisan ini hanya untuk pengantar rasa saja.
Buku Pulang karya Leila S Chudori adalah karya beliau ke 3 yang gue baca. Sebelumnya adalah "Laut bercerita" dan "9 dari Nadira". Tidak pernah gagal. Tidak pernah tidak gagal membuat gue selalu terenyuh. Novel ini udah nangkring di lemari buku gue selama kuliah, cuman apa daya, gue gak bisa membagi waktu buat baca novel, karena baca text-book di masa kuliah jauh lebih genting daripada novel (maklum saya juga bukan anak sastra, jadi membaca buku novel hanya bisa disela waktu).
Sesaat buku ini gue bawa ke rumah, dan sudah ada di masa liburan. Bahagia sekali akhirnya bisa baca novel kembali.
Gue adalah tipikal orang yang tidak punya harapan apa apa dengan buku novel yang gue inginkan, gue gak mencari tau ini membahas apa, apalagi mencari-cari ulasan orang lain. Saat membaca karya buku Bu Leila, gaya bahasanya khas sekali. Hal yang membuat gue penasaran, adalah plotnya, gue mencari-cari, sebenarnya siapa 'pemeran utama' di kisah ini? Apa plot yang sebenarnya ingin disampaikan? Apa benang merahnya?
Novel "pulang" ini, sering kali berganti ganti point of view, saat sudah setengah membaca buku ini, dan seorang teman menanyakan tentang apakah buku ini? Gue pun bingung, judul "Pulang" ini dimaknai seperti apa? Benang merahnya tidak dapat saya temukan diawal cerita, karena kebanyakan buku ini berada pada point of view-nya Dimas Suryo. Hal ini juga yang bikin makin penasaran, plot apa yang ingin digiring?
Membaca buku karya Bu Leila pasti dilengkapi dengan kutipannya yang ngena di gue, salah satunya:
"Dimas, ingatkah kau pembicaraan kita tentang suatu 'gelembung kosong' di dalam kita, yang diisi hanya oleh kau dan Dia, untuk sebuah persatuan antara kita dan Dia yang tak bisa diganggu oleh apa pun barang seusapan. Inilah saat yang tepat untukmu untuk melihat sepetak kecil dalam tubuhmu itu. Sendirian. Berbincang, jika kau ingin. Atau diam jika kau ingin. Dia mendengarkan.
Selalu Mendengarkan."
Plot yang dibawakan semakin sejelas ketika point of viewnya dipindahkan ke Lintang Utara. Sehingga memaknai pulang jadi lebih mudah. Seluruh kisah yang dibawakan sang penulis memang pasti bergerak di latar 1998 atau sekitaran masa Orde Baru. Menceritakan tentang kebebasan yang dirampas, tahanan politik, segalanya yang "sensitif" kalau topik ini diserukan pada jaman orde baru.
Rasa ketika membaca buku ini tuh seperti dibawa jalan jalan oleh sang penulis menyusuri sejarah. Tak jarang yang awalnya saya baca buku, malah berujung browsing mencari artikel yang lalu lalu. Karya Bu Leila selalu membuka mata gue untuk memaknai kata sejarah, sejarah dari kacamata penulis. Syukur-syukur bisa membuat gue jadi lebih concern sama topik ini. Selain itu buku bu Leila juga bikin gue nyari rekomendari lagunya heheee, kayak lagunya The Doors yang Light My Fire.
Buku ini juga buku pertama Bu Leila yang bikin gue nangis ckckck, karena selama ini ceritanya terlalu nyesek sampe gue sendiri juga gak bisa nangis (apasih nad). Ya gak nangis sesegukan gitu sih, gue nangis juga karena seneng sama ritme yang dibawain. Ceritanya itu slow banget, kita diajak buat kenalan sama semuanya, tau kehidupannya dan latar belakang segala macamnya, diajak untuk pindah pindah point of view, diajak buat mencintai kata-katanya, intinya diajak untuk menyatu banget sama buku dan seisinya. Karena semakin lama juga bikin gue sadar, ada nilai serta masalah yang ternyata relate sama kehidupan manusia lain― walau kondisinya lain.
“Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.”
― Pulang
― Pulang